Mengapa Orang Madura Gemar pergi Haji?

Ka'bah (mekah)
HAJI bagi masyarakat Madura melambangkan vitalitas yang sinkronis-diakronis antara Islam dan kultur lokal. Ungkapan Mas Towan dan Bhu’ Towan bagi orang yang naik haji dalam tradisi Madura masa lalu menunjukkan proses sinkronisasi tersebut.

Dalam leksikon Madura, Towan dinisbahkan bagi individu yang tercampur dalam dirinya darah keturunan Arab. Secara kultural, Towan (Indo-Arab) menjadi sebuah penanda simbolisasi sakralitas akan tanah Arab yang dianggap suci.

Dengan demikian, tanah Arab dianggap bukan saja sebuah poros spiritual, lebih daripada itu ia merupakan magnet kultural yang dapat direferensi secara tematik. Para haji dianggap memiliki kedudukan kultur sejajar dengan towan Arab yang memiliki tempat tersendiri dalam harmoni masyarakat Madura.

Historiografi haji Madura masa lalu pun memperkuat hal ini. Posisi para haji yang demikian penting terkadang mengundang pemerintah Belanda untuk mengawasi para haji yang baru pulang dari tanah suci.

Politik spionase ini dipicu teori politik Snouck Hurgronje tentang hubungan antara ibadah haji dengan Pan Islamisme. Para haji nusantara termasuk Madura sendiri disinyalir terpengaruh oleh ide ini. Pan Islamisme, nasionalisme, transformasi keilmuan Islam serta tentunya penyebaran bahasa Melayu menjadi sisi penting dari ibadah haji (M.V. Bruinessen:1990).

Pemerintah Hindia Belanda sendiri menyebut bahwa kaum haji di Madura pada awal-awal abad 20 telah mencapai 4 orang per seribu penduduk. Para haji tersebut juga menjadi transformer ideologi Islam antikolonialisme.

Pengaruh ideologi Islam dari luar inilah konon yang mengilhami pemberontakan Kiai Semantri dari Prajan Sampang pada tahun 1895. Disinyalir, Kiai Semantri mendapatkan ilham untuk melawan Belanda setelah dikader seorang haji alumni Makkah (Kuntowijoyo:1988).

Naik haji di masa lalu sangat sulit. Selain keterbatasan finansial karena harus membeli tiket pergi pulang (retourbiljetten) yang mahal, transportasi juga menjadi problem sendiri. Para zaman sebelum tahun 1922, embarkasi haji (Pelgrimshaven) hanya terdapat di Batavia dan Padang.

Dapat dibayangkan, bahwa para jamaah haji Madura saat itu harus pergi terlebih dulu ke Batavia baru kemudian naik kapal laut menuju Jeddah. Apalagi, biaya haji saat itu sangatlah mahal yang berkisar antara 570 sampai 856 gulden pada awal abad 20. Sulitnya transportasi di masa lalu itu, juga menyebabkan para haji biasanya berperan ganda.

Selain beribadah, tak jarang para haji juga menuntut ilmu di Tanah Suci guna menunggu kapal pengangkut yang akan datang kemudian. Para calon haji biasanya datang pada bulan puasa agar bisa berpuasa di Haramain.

Selama di kota suci ini, mereka berbaur dengan sesama jamaah haji Nusantara dan dunia serta mendalami ilmu agama dan tarekat dari para ulama nusantara yang ada. Ibadah haji telah membentuk semacam jaringan mukimin Jawi (sebutan bangsa Arab terhadap orang Nusantara). Salah satu dari sub jaringan itu adalah Jaringan Al Manduri, yaitu para mukimin dan ulama keturunan Madura di kota Makkah dan Madinah.

Aboe Bakar Djajadiningrat, drogman konsulat Belanda di Jeddah menyebutkan bahwa pemukim Madura pada tahun 1913 saja telah mencapai 140 orang. Mereka tersebar di berbagai pusat studi Islam yang ada di Haramain. Beberapa diantaranya merupakan ulama yang telah lama bermukim di Makkah serta memiliki sejumlah murid.

Laporan asisten mufti Makkah Sayyid Abdallah Zawawi menyebut dua ulama Madura yang mengajar di Makkah yaitu Syekh Ismail Madura dan Syekh Abd Azim dengan lama mukim puluhan tahun (Putuhena:2007). Terdapat pula tokoh tarekat Qadiriyah Wa Naqshabandiyah Madura, Kiai Ahmad Hasbullah Bin Muhammad (M.V. Bruinessen: 1994) Jaringan Al Manduri ini begitu menggairahkan tidak saja karena melahirkan ulama-ulama besar di Madura tapi juga berperan sinergis dalam penyebaran keilmuan dunia.

Kiai Kholil Bangkalan, Syekh Akram Al Manduri, serta sejumlah ulama pesantren besar di Madura merupakan produk signifikan interaksi ibadah haji dengan proses menuntut ilmu. Mereka juga menyebarkan kitab-kitab karya Syekh Nawawi Al Bantani, Syekh Mahfuz Al Termasi, Syekh Yusuf Al Maqassari, Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi serta para mursyid tarekat.

Mereka pun membangun jaringan kemitraan dengan ulama-ulama Arab seperti Sayyid Abbas Alwi Al Maliki dan Sayyid Ahmad Dahlan. Dalam menjalankan manasik haji, para haji Madura biasanya memakai kitab Manasik seperti yang dipakai jamaah haji lain dari nusantara yaitu Al Hajji Wal Umrah karya Syekh Daud Al Fatani atau kitab Manasik karya Sayyid Usman Bin Yahya.

Ibadah hajipun ikut memperkuat tarekat. Di Madura sendiri tarekat disebarkan dengan dua model yaitu melalui mursyid lokal serta melalui mursyid internasional di Mekkah-Madinah.

Tarekat-tarekat yang ada di Madura seperti Naqshabandi, Tijaniyah, Syattariyah, Qadiriyah Wa Naqshabandiyah disebarkan dengan dua cara ini. Para haji Madura biasanya menambahi ijazah dan ilmu tarekatnya dari para mursyid internasional yang ada di Makkah setelah sebelumnya berbaiat pada mursyid atau khalifah tarekat lokal.

Di Jawa Timur sendiri, Tarekat Qadiriyah Wa Naqshabandiyah dan Naqshabandi banyak disebarkan oleh orang-orang Madura yang mendapat ijazah emas Syekh Ahmad Khatib Sambas dan Syekh Saleh Al Zawawi.

Tidak hanya itu, ibadah haji juga ikut menyebarkan bahasa Indonesia di antara para jamaah haji yang beraneka ragam etnisnya (M.V.Bruinessen:1990). Domisili yang lama di Makkah melahirkan interaksi komunikatif antar jamaah haji nusantara. Bukan tidak mungkin kalau haji Madura juga mengalami transformasi bahasa Melayu ini. Ibadah haji secara langsung ikut memasyarakatkan bahasa Melayu diantara bangsa Indonesia termasuk Madura.

Laporan Snouck Hurgronje awal abad akhir abad 19 juga menyebutkan betapa dahsyatnya perbincangan tentang perang Aceh di antara masyarakat Nusantara di Makkah. Bagi komunitas Madura sendiri, perang Aceh memiliki nilai tersendiri.

Pasalnya, banyak serdadu Belanda dalam perang Aceh merupakan orang Madura yang tergabung dalam milisi Barisan bersama Korps Marsose lain yang berasal dari Jawa, Menado dan juga Ambon. Militer “Belanda hitam” inipun disebut kaphee (kafir) oleh orang Aceh.

Dapat dibayangkan bagaimana jika perang Aceh diperbincangkan diantara komunitas Nusantara di Tanah suci, Sementara terdapat fakta bahwa tentara kafir Belanda sendiri sebagian berasal dari mereka sendiri.

Bisa jadi, pada kasus ini, para haji Madura berperan sebagai pelumas stigma negatif tersebut. Para Haji Madura merupakan pegangan (hujjah) hidup bahwa tidak semua orang Madura itu bengis dan menjadi tentara sewaan dalam korps Marsose atau Barisan. Masih banyak orang Madura yang baik seperti dilakonkan para haji yang giat beribadah dan menuntut ilmu.

Dengan demikian historigrafi haji Madura pada masa lalu ternyata bukanlah sekadar ibadah atau mencari prestis sekembalinya ke tanah air. Para haji masa kini harus belajar pada para haji Madura masa lalu yang gigih memperjuangkan ilmu agama, menangkal stigma negatif serta aktif meningkatkan ilmunya. Lalu, bagaimana dengan haji Madura sekarang?

Syarif Hidayat Santoso
Pemerhati Sosial Keagamaan 
(ful)

0 comments:

okezone.com